Minggu, 06 November 2011

"Gadis di Angkutan Umum"

Berbagai macam peristiwa terjadi di dunia ini. Penderitaan, kepedihan, kebahagiaan, suka, dan duka seakan menyatu dalam lingkaran yang tak berujung. Kenyataan yang tak sesuai dengan impian seakan menjadi duri yang senantiasa menusuk hati dikala senja yang sunyi.

Aku terdiam saat melihat dua kenyataan yang sama sekali berbeda yang terjadi pada dua gadis yang sebaya. Yang satu dengan mudah tanpa harus berpusing-pusing ria dapat masuk ke sekolah manapun yang dia inginkan, nilai pas-pasan tak jadi masalah baginya. Dengan ekonomi keluarga yang memungkinkan, dia dapat memilih dan merasakan dunia sekolah dan dunia kampus serta merasakan indahnya bunga-bunga mekar di taman keremajaan.

Sedangkan gadis yang lain harus bersusah payah hanya untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, meski dengan nilai yang terbilang gemilang. Harus rela berpanas-panas ria berlomba dengan terik mentari untuk sampai ketempat kerja, tanpa ada dispensasi hanya untuk sekedar menikmati sejuknya taman kampus. Tak ada waktu untuk menertawakan dosen yang ngawur saat mengajar, atau untuk ‘memeras’ teman agar mentraktir di kantin. 

Yah, dia harus berlomba dengan anak-anak lain yang senasib dengannya untuk mendapatkan sebuah angkutan yang membawanya ke tempat kerja di pojok kota. Kadang hal-hal seperti ini sulit untuk ku mengerti dengan akalku, tapi inilah hidup. Tak banyak yang dapat dimengerti dari nasib, karena ALLAH punya rencana sendiri untuk hambaNya, dan yakinlah rencana itulah yang terbaik.

Gadis berjilbab itu tersenyum dan duduk di sampingku. Tampak jelas kelelahan yang tergambar di wajahnya, yang merah terbakar matahari, namun ia masih dapat menyumbangkan seulas senyum manis ditengah sumpeknya angkutan umum di jam satu siang ini.

“Ketemu lagi, mbak“ Katanya menyapaku.
“He’eh, habis satu arah sih pulangnya” jawabku, sambil balas tersenyum padanya.
“Kos kamu dimana?” tanyanya, seraya membenarkan duduknya saat ada penumpang yang turun.
“Sekitar kampus 1, lumayan dekat dari sultan residense”
“Mau langsung pulang ya” tanyanya lagi.
“Saya nggak pulang ke kos, tapi ke warnet” jawabku.
“Oh, lagi banyak tugas ya?”
“Nggak, saya kerja di sana, makanya pulang kuliah terus ke warnet, soalnya capek kalau harus pulang ke kos lagi. Kamu sendiri mau kemana?” tanyaku padanya.
“Ke pasar mbak” jawabnya.
“Rumahmu dekat pasar?”
 
“Nggak, saya kerja di pasar. Saya penjaga toko mbak” Katanya.
           “Toko apa” tanyaku ingin tahu.
          “Toko sembako” Jawabnya.

          “O ya, dari jam berapa kerjanya”
          “Dari jam satu sampe jam setengah tujuh malam” jawabnya lagi.

         Ya ALLAH, aku sempat tercengang dengan jawabannya. Bayangkan saja gadis bertubuh kecil ini harus pergi pagi untuk kuliah, harus pulang malam, dan bekerja di toko sembako pula. Toko yang menurutku paling sibuk sedunia.

          Aku sempat menatapnya sebentar. Kulihat sosok mata bening itu begitu tegar. Aku benar-benar malu padanya. Aku yang bekerja sebagai programer komputer warnet kadang kala mengeluh ngantuk, tidak tidur siang dan sebagainya. Sedangkan gadis ini harus bergulat dengan beras, gula, dan entah bahan makanan apa lagi yang dijual pemilik toko tempatnya bekerja.

         “Untuk biaya kuliah mbak” katanya seakan dapat membaca pikiranku.
           “Capek nggak tiap hari kayak gini” kataku menaruh iba.
          “Capek sih iya mbak, tapi alhamdulillah udah biasa. Lagian kalau kaya gini, gimana juga mbak. Biaya pendidikan makin tinggi. Orang mau pintar kan mesti usaha. ALLAH nggak akan meninggalkan hambaNya yang berusaha. Insya ALLAH orang yang memiliki ilmu akan ditinggikan derajatnya oleh ALLAH”
           “Iya, semoga kita termasuk kedalamnya ya” kataku tersenyum.
           “Amin ya Rabbal Alamin” Ia balas tersenyum ke arahku. Akhirnya kami berpisah di depan kampus 1. Hanya do’a yang mengiringi kepergiannya, semoga ALLAH selalu berada dalm hatinya dan cinta ikhlasnya hanya untuk Sang Pemilik Cinta.

          Hari ini satu lagi hikmah yang dapat ku ambil. Aku bersyukur karena ALLAH tidak memberikan aku sebuah motor yang bisa kukendarai, jika dengan angkutan umum aku bisa lebih dewasa dan kaya akan hikmah.

          Ya ALLAH berapa banyak gadis-gadis seperti dia di negeri permai Indonesia ini, yang tak mampu untuk memdapatkan kesempatan pendidikan. Namun, tak banyak yang berhati baja dan berkemauan keras seperti dia. Jika hamba boleh meminta, maka luruskanlah niatnya dan bukakan jalan rahmatMU untuknya. Semoga akan terlahir lagi gadis-gadis seperti dia.

         Hari ini lihatlah wanita yang insya ALLAH akan memegang panji-panji ilmu atas nama ALLAH. Indonesia, ibu pertiwiku yang indah, hari ini seorang calon putrimu yang baik sedang menapakkan langkah ke pasar demi menuntut ilmu untuk membangunmu. Tersenyumlah jangan bersedih lagi.

         Indahnya hari ini. Kulihat pintu kosku terbuka lebar seakan tersenyum manis menyambutku. Sekali lagi, Ya ALLAH aku bersyukur padaMU.